Senin, 28 Oktober 2019

prisma al-ikhlas

                             Keluarga keduaku

Mereka adalah keluarga kedua ku, menerimaku tanpa melihat aku ini siapa. Bergandeng tangan dengan satu tujuan, melangkah bersama menuju satu titik.
Ya.. mereka adalah PRISMA dengan berbagai macam pikiran disatu padankan, dengan berbagai latar keluarga yang berbeda disatukan. Aku sudah bersamanya selama 4th, tidak ada diantara mereka yang menjatuhkan ataupun mengucilkan, mereka semua telah memberi energi besar tanpa batas dalam hidup saya. PRISMA membuat saya percaya akan diri saya sendiri, membuat saya tidak malu bersua dalam hal kebaikan. Terimakasih Prisma atas segala waktu, dan kebersamaan yang telah kita lalui bersama. Semoga PRISMA selalu berada di jalan yang Allah ridhoi~

Tidak terasa jari ini berdansa dan menghasilkan kata-kata indah ini. Teringat banyak sekali ilmu dan pengalaman bersama kalian, dan pada saat 4 tahun yang lalu aku bukanlah siapa-siapa.

Ibu aceh: bu? Anaknya di pesantrenin ya? Kok gk pernah keliatan? (Ia bertanya dengan ibuku)
Ibuku: oh tidak kok, dia ada di rumah. Soalnya sekolahnya dari pagi sampe sore terus jadi dia males main katanya. (Jawab ibu ku dengan ramah)

Ya semenjak aku masuk sekolah madrasah aku sangat malas untuk bersosialisasi, terlalu banyak tugas, dan hafalan hadis membuatku malas bermain. 

Akhirnya aku lulus SMP, dan melanjutkan di sekolah SMK bebanku mulai berkurang tidak terlalu banyak hafalan dan waktu luangku semakin bertambah. Tapi tetap saja aku tidak keluar rumah, wong aku ora punya kawan mau main dengan siapa aku?

Sampai akhirnyaa...

Pak rohim: Assalamualaikum mpok, (pak rohim datang ke rumah ku, beliau adalah pengurus masjid yang ada di dekat rumah ku)
Ibuku: walaikumsalam, eh rohim ada apa ya?
(Sambil membukakan pintu)
Pak rohim: mpok punya anak perempuan kan ya? Nih saya mau kasih undangan buat anak mpo, biar dia bisa gabung sama remaja masjid laennya. Kebetulan nanti malem kita mau ngadain rapat buat pawai obor 
Ibuku: wah... kebetulan anak saya gk pernah keluar, nanti inshaAllah saya suruh dateng.

Pak rohim akhirnya bergegas pergi dengan kendaraan roda duanya itu, ibu langsung menghampiriku di kamar.

Ibu: na, ini ada undangan rapat remaja masjid. Kamu dateng ya nanti malem?
Aku: Apa? Serius bu? Yang benar saja? Aku bahkan tidak punya teman disini, bagaimana bisa aku bergaul dengan mereka? Ah aku malas untuk datang, bagaimana nanti orang-orang melihat ku? Aku malu bu.

Aku sudah banyak membuat pengelakan, agar ibu tidak memaksaku hadir ke rapat remaja masjid itu. Aku bahkan memang tidak mengenal remaja yang tinggal di dekat rumah ku, bagaimana bisa aku berkumpul dengan orang asing?

Lalu ibu kembali berbicara

Ibu: jadi, Kamu mau seperti ini? Sampai kapan?! Kamu mau hidup mu sendiri terus? Katanya kamu mau punya teman banyak kan? Katanya kamu mau pandai berbicara di depan orang banyak kan? Ini saatnya kamu keluar dari zona nyamanmu sayang.
Aku: Tapi bu? (Hatiku masih ragu, tapi apa yang ibu katakan baik untukku)
Ibu: udah gausah tapi-tapian, pokoknya nanti malem kamu harus dateng ya?
Aku: yaudah deh nanti aku coba

Akhirnya setelah sholat isya aku bersiap-siap untuk ke masjid, tidak lupa untuk menanyakan apakah penampilanku aneh atau tidak pada ibu.

Aku: Bu,Baju yang ini cocok tidak? Bu, pake kerudung yang warna apa? Bu,wajahku hitam tidak? Bu, gimaja penampilanku? Aku takut salah kostum nanti... (muka ku memelas)
Ibu: itu bajumu sudah pas, tidak mungkin salah kostum, pokoknya kamu harus percaya diri, jangan malu-malu, dan harus berkenalan dengan teman yang lain. Oke? (Pinta ibu)

Baiklah, akhirnya aku berangkat menuju masjid dekat rumah ku. Sebenarnya ini adalah hal mudah, tetapi kenapa aku merasakannya sangat sulit ya? Rasa percaya diri ku memang tidak pernah ada sejak aku di bully oleh teman-teman ku di sekolah, maka dari itu aku sangat malas untuk bersosialisasi apalagi bercakap dengan orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar