Aku: ibu? Di depan sudah bocor, di tengah dan belakangpun juga sama. Kita harus bagaimana bu? Kali ini bahkan angin sangat kencang, ia seperti ingin merobohkan rumah ini beserta harapan-harapan di dalamnya.
Ibu: sabar nak, Allah pasti akan melindungi kita. Kita hanya perlu berdoa agar hujan ini cepat usai.
Itulah yang selalu ibu ucapkan disaat aku takut dan sedih.
(Kamipun berpelukan hingga kami tertidur sampai hujan reda)
Aku terbangun karena rasa dingin yang menusuk kalbu, aku ambil sarung bapak di lemari dan letakan diatas badan ibu. Setelah itu ku pandang wajah ibu yang begitu lelah, (dalam hati) sepertinya ibu sangat lelah karena harus memindahkan ember yang digunakan untuk menampung air yang tembus dari atap kami semalam.
Rumah ini sudah aku tempati saat aku TK, ini adalah rumah pemberian Nenek untuk bapak ku. Dengan luas yang tak seberapa, tembok yang sudah jebol di bagian tengah dan atap kayu yang sudah mulai reot.
Kamar mandi kami di bawah pohon jambu jauh dari rumah,kalau malam sudah pasti bawa lilin dan kalau siang kami tidak berani buang air besar atau kecil karena banyak teman-temanku yang bermain disana (malu)
Masa itu benar-benar pahit, bahkan dari kecilpun aku selalu dibully oleh teman-teman. Mereka ucap aku si miskin, si bau, si dekil aku hanya bisa diam lalu pulang dan menangis dipelukan ibu.
Ibu kau segalanya bagiku
Jika tidak ada dirimu mungkin aku sudah tiada
Jika tidak ada dirimu aku tidak akan sekokoh saat ini
Ibu kau adalah nafasku
Ketika semua jauh kau merangkulku
Ketika semua menghina kau memotivasiku
Hidupku yang pahit di masalalu telah merubah ku saat ini, kini aku menjadi wanita tegar dan tidak mudah menyerah. Semua ini tidak lepas oleh campur tangan Tuhan, Tuhan maha baik telah memberikanku malaikat tak bersayap seperti ibuku.
Aku memiliki rasa trauma yang sangat besar dan belum hilang hingga saat ini yaitu rasa takutku dengan hujan, angin dan petir. Tetapi ketiganya tidak mampu merobohkan harapan dan semangat gadis miskin ini untuk sukses!💪
Tidak ada komentar:
Posting Komentar